Kami dari Trust Metro Institute Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1434 H "Mohon Maaf Lahir dan Bathin"

Enter Slide 1 Title Here
This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Enter Slide 2 Title Here
This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Listen and See
This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Enter Slide 4 Title Here
This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Kamis, 08 Agustus 2013
Senin, 29 Juli 2013
KOPERASI MEWUJUDKAN KEBERSAMAAN
Noer
Soetrisno
KOPERASI MEWUJUDKAN KEBERSAMAAN DAN KESEJAHTERAAN: MENJAWAB TANTANGAN GLOBAL DAN REGIONALISME BARU
Membangun
sistem Perekonomian Pasar yang berkeadilan sosial tidaklah cukup dengan
sepenuhnya menyerahkan kepada pasar. Namun juga sangatlah tidak bijak apabila
menggantungkan upaya korektif terhadap ketidakberdayaan pasar menjawab masalah
ketidakadilan pasar sepenuhnya kepada Pemerintah. Koperasi sebagai suatu
gerakan dunia telah membuktikan diri dalam melawan ketidakadilan pasar karena
hadirnya ketidaksempurnaan pasar. Bahkan cukup banyak contoh bukti keberhasilan
koperasi dalam membangun posisi tawar bersama dalam berbagai konstelasi
perundingan, baik dalam tingkatan bisnis mikro hingga tingkatan kesepakatan
internasional. Oleh karena itu banyak Pemerintah di dunia yang menganggap
adanya persamaan tujuan negara dan tujuan koperasi sehingga dapat bekerjasama.
Meskipun
demikian di negeri kita sejarah pengenalan koperasi didorong oleh keyakinan
para Bapak Bangsa untuk mengantar perekonomian Bangsa Indonesia menuju pada
suatu kemakmuran dalam kebersamaan dengan semboyan "makmur dalam
kebersamaan dan bersama dalam kemakmuran". Kondisi obyektif yang hidup dan
pengetahuan masyarakat kita hingga tiga dasawarsa setelah kemerdekaan memang
memaksa kita untuk memilih menggunakan cara itu. Persoalan pengembangan
koperasi di Indonesia sering dicemooh seolah sedang menegakan benang basah.
Pemerintah di negara-negara berkembang memainkan peran ganda dalam pengembangan
koperasi dalam fungsi "regulatory" dan "development".
Tidak jarang peran ‘”development”
justru tidak mendewasakan koperasi.
Koperasi
sejak kelahiranya disadari sebagai suatu upaya untuk menolong diri sendiri
secara bersama-sama. Oleh karena itu dasar "self help and
cooperation" atau "individualitet dan solidaritet"
selalu disebut bersamaan sebagai dasar pendirian koperasi. Sejak akhir abad
yang lalu gerakan koperasi dunia kembali memperbaharui tekadnya dengan
menyatakan keharusan untuk kembali pada jati diri yang berupa nilai-nilai dan
nilai etik serta prinsip-prinsip koperasi, sembari menyatakan diri sebagai
badan usaha dengan pengelolaan demoktratis dan pengawasan bersama atas
keanggotaan yang terbuka dan sukarela. Menghadapi milenium baru dan globalisasi
kembali menegaskan pentingnya nilai etik yang harus dijunjung tinggi berupa:
kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial dan kepedulian kepada pihak lain
(honesty, openness, social responsibility and caring for others) (ICA,1995).
Runtuhnya rejim sosialis Blok-Timur dan kemajuan di bagian dunia lainnya
seperti Afrika telah menjadikan gerakan koperasi dunia kini praktis sudah
menjangkau semua negara di dunia, sehingga telah menyatu secara utuh. Dan kini
keyakinan tentang jalan koperasi itu telah menemukan bentuk gerakan global.
Koperasi
Indonesia memang tidak tumbuh secemerlang sejarah koperasi di Barat dan
sebagian lain tidak berhasil ditumbuhkan dengan percepatan yang beriringan
dengan kepentingan program pembangunan lainnya oleh Pemerintah. Krisis ekonomi
telah meninggalkan pelajaran baru, bahwa ketika Pemerintah tidak berdaya lagi
dan tidak memungkinkan untuk mengembangkan intervensi melalui program yang
dilewatkan koperasi justru terkuak kekuatan swadaya koperasi.
Di bawah arus rasionalisasi subsidi dan
independensi perbankan ternyata koperasi mampu menyumbang sepertiga pasar
kredit mikro di tanah air yang sangat dibutuhkan masyarakat luas secara
produktif dan kompetitif. Bahkan koperasi masih mampu menjangkau pelayanan
kepada lebih dari 11 juta nasabah, jauh diatas kemampuan kepiawaian perbankan
yang megah sekalipun. Namun demikian karakter koperasi Indonesia yang
kecil-kecil dan tidak bersatu dalam suatu sistem koperasi menjadikannya tidak
terlihat perannya yang begitu nyata.
Lingkungan keterbukaan dan desentralisasi
memberi tantangan dan kesempatan baru membangun kekuatan swadaya koperasi yang
ada menuju koperasi yang sehat dan kokoh
bersatu.
Menyambut pengeseran tatanan ekonomi dunia
yang terbuka dan bersaing secara ketat, gerakan koperasi dunia telah menetapkan
prinsip dasar untuk membangun tindakan bersama. Tindakan bersama tersebut
terdiri dari tujuh garis perjuangan sebagai berikut :
Pertama, koperasi akan mampu berperan secara baik kepada masyarakat ketika
koperasi secara benar berjalan sesuai jati dirinya sebagai suatu organisasi
otonom, lembaga yang diawasi anggotanya dan bila mereka tetap berpegang pada
nilai dan prinsip koperasi;
Kedua, potensi
koperasi dapat diwujudkan semaksimal mungkin hanya bila kekhususan koperasi
dihormati dalam peraturan perundangan;
Ketiga, koperasi dapat
mencapai tujuannya bila mereka diakui keberadaannya dan aktifitasnya;
Keempat, koperasi
dapat hidup seperti layaknya perusahaan lainnya bila terjadi "fair playing
field";
Kelima, pemerintah
harus memberikan aturan main yang jelas, tetapi koperasi dapat dan harus
mengatur dirinya sendiri di dalam lingkungan mereka (self-regulation);
Keenam, koperasi
adalah milik anggota dimana saham adalah modal dasar, sehingga mereka harus
mengembangkan sumberdayanya dengan tidak mengancam identitas dan jatidirinya,
dan;
Ketujuh, bantuan
pengembangan dapat berarti penting bagi pertumbuhan koperasi, namun akan lebih
efektif bila dipandang sebagai kemitraan dengan menjunjung tinggi hakekat
koperasi dan diselenggarakan dalam kerangka jaringan.
Bagi
koperasi Indonesia membangun kesejahteraan dalam kebersamaan telah cukup
memiliki kekuatan dasar kekuatan gerakan. Daerah otonom harus menjadi basis
penyatuan kekuatan koperasi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan lokal
dan arus pengaliran surplus dari bawah. Ada baiknya koperasi Indoensia melihat
kembali hasil kongres 1947 untuk melihat basis penguatan koperasi pada tiga
pilar kredit, produksi dan konsumsi (Adakah keberanian melakukan
restrukturisasi koperasi oleh gerakan koperasi sendiri?)
Dengan mengembalikan koperasi pada fungsinya
(sebagai gerakan ekonomi) atas prinsip dan nilai dasarnya, koperasi akan
semakin mampu menampilkan wajah yang sesungguhnya menuju keadaan "bersama
dalam kesejahteraan" dan "sejahtera dalam kebersamaan”.
Jakarta, 8 Juli 2003
Oleh: Dr. Noer Soetrisno -- Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM, Kantor Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia
Senin, 22 Juli 2013
Civil Society
Civil Society
Bahruddin[1]
Pertamakali konsep civil
society, menurut para pakar ilmu-ilmu sosial, diperkenalkan oleh Adam
Ferguson seorang filsuf Skotlandia dengan bukunya yang dia tulis An Essay on the History of Civil society (1773).
Namun yang memulai melengkapi analisisnya pada kelompok-kelompok masyarakat
yang mengantarkan kepentingan rakyat kepada para pengambil kebijakan baru pada
abad ke–20 yakni Alexis de Tocquaville dengan bukunya Democracy in America (1969). “Bapak” civil society Indonesia – AS
Hikam yang menulis desertasinya dengan judul: “Negara, Politik Masyarakat dan
Madani, dalam Pergerakan Sosialnya dibawah Orde Baru” Pada tahun 1995 dalam
mendevinisikan civil society juga
merujuk pada pemikiran Tocquaville. Yakni
wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan
antara lain: kesukarelaan (voluntary),
keswasembadaan (self-generating), dan
keswadayaan (self-supporting),
kemandirian tinggi “berhadapan” dengan negara, dan keterikatan tinggi dengan
norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti warganya (1996)
Fungsi civil society
dalam hubungannya dengan negara ekstrimnya ada dua madzhab besar yang berbeda.
Yang satu sebagai komplementer negara, yang satunya berposisi diametral dengan
negara atau sebagai tandingan negara
(counterbalancing the state /
countervailing forces). Hikam menambahkan fungsi subtitutor yang
lebih dekat dengan fungsi komplementer yakni kalangan civil society melakukan serangkaian aktivitas yang belum atau tidak
dilakukan negara dalam kaitannya sebagai institusi yang melayani kepentingan masyarakat luas. Dalam ranah kiprahnya,
prototipe civil society juga
disebut-sebut berada di dua ranah yang berbeda yakni di ranah budaya (horisontal)
yang lebih menekankan pada keberadaban (civility)
dan persaudaraan (fraternity) dan
ranah politik (vertikal) yang lebih menekankan pada kekuatan tandingan (counter of hegemony).
Kamis, 18 Juli 2013
Artiklel About Young and Leader
When we talk about youngsters, we often find in many articles and we ourselves even witness the great role of youth participation in developing, favoring, and supporting the development of nation. They are the hope of nation who will carry out the struggle for the sake of brighter future of the country. Similarly, they are at the same time, the hope of Islamic religion will strive for the sake of Islamic teaching in the next, maintain the Islamic law, who will safeguard the Moslem young generation at large from influence of destructive western style of life, who will be leaders for the next. It was yelled as: TODAY IS YOUNG TOMORROW WILL BE A LEADER.
This statement encourages us to pay attention to the young existence in the future. By knowing all the facts we realize, how important role the young have for the future. The youths supposedly symbolize the force never become weak quickly. For this reason, the former president of Indonesia Soekarno has once said: “GIVE ME TEN YOUTHS WOULD SHAKE THE WORLD”. From this statement we can sum up that Soekarno appreciated the young people more than the old. Why? Because they play significant roles, have great potency and great energy that can be prided. Thanks' Regard
Kamis, 27 Juni 2013
Rancangan Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi
Rancangan Zona Integritas Wilayah
Bebas Korupsi
PENCANANGAN WILAYAH BEBAS KORUPSI
DI (Kementerian/Pemda/Satker) …….
Pendahuluan
Sebagai
lembaga pendidikan tinggi negeri, (Kementerian/Pemda/Satker) ...... (Kementerian/Pemda/Satker)
berada di bawah naungan Kementrian Agama dan bertanggungjawab kepada Menteri
Agama RI. Visi (Kementerian/Pemda/Satker) adalah terwujudnya (Kementerian/Pemda/Satker)
sebagai lembaga unggulan (center of excellence) yang mampu menghasilkan
SDM yang berkualitas dan memiliki keluasan ilmu/intelektual, kedalaman
spiritual dan ketinggian profesionalisme.
Misi
(Kementerian/Pemda/Satker) ...... dalam menyelenggarakan pendidikan adalah
meningkatkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan dan
pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang
Langganan:
Postingan (Atom)
Advertisement
Popular Posts
-
KURIKULUM KAJIAN KOMUNITAS LISAN KEAGAMAAN DAN KEISLAMAN (KLIKs) TRUST INSTITUTE KOMET Revolusi Kesadaran 1 (St...
-
TES KEMAMPUAN KEPEMIMPINAN KERJAKAN DALAM 1 MENIT !!! NAMA : Jurusan : Bacalah soal dibawah ini dengan TEP...
-
Cobalah Kuis di bawah ini dan Anda akan menemukan jawaban, bagaimana kepribadian Anda menurut bahasa tubuh yang Anda perlihatkan. 1. An...
-
LOGIKA KESADARAN By: Supendi,S.PdI* “Education is live and live is education” “Wa qul jaa ‘al-haqqa wa zahaaqal-baathil, inna b...
-
Pandemi nampaknya sudah berlalu, namun efek dariWork Form Home (WFH) dimana dua hari libur kerja, menjadikan waktu saya lebih panjang dengan...
-
AL QUR’AN SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN (Analisis surat Al Alaq 1-5 dan Al Taubah 122) A. Pendahuluan Islam adalah satu-satunya agam...
-
Pengertian Globalisasi Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global , yang maknanya ialah universal ....
-
Noer Soetrisno KOPERASI MEWUJUDKAN KEBERSAMAAN DAN KESEJAHTERAAN: MENJAWAB TANTANGAN GLOBAL DAN REGIONALISME BARU Membangun siste...
-
Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan apa yang belum diketahui . Berfilsafat rend...
-
Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar Sedangkan ilmu hudhuri ialah ilmu yang tidak memisahkan antara objek dan subjek. Manusia sebagai subyek s...